KENDARI – Fakultas Arsitektur Universitas Muhammadiyah Kendari resmi meluncurkan program akademik terintegrasi yang menggabungkan teori pembelajaran dengan praktik langsung di lapangan. Program ini dirancang sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan industri kreatif yang dinamis. Peluncuran program ini menjadi momentum penting bagi institusi pendidikan arsitektur di Kendari, yang selama ini terus berkembang mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Program kolaboratif yang diberi nama “Architecture Industry Connect (AIC) 2026” ini dirancang melalui kemitraan strategis antara Fakultas Arsitektur dengan beberapa firma arsitektur terkemuka, pengembang properti, serta institusi pemerintah di tingkat provinsi Sulawesi Tenggara. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari untuk menghadirkan pendidikan berkualitas yang relevan dengan industri, sekaligus menciptakan ekosistem akademik yang dinamis dan responsif terhadap kebutuhan pasar kerja lokal dan nasional.
Menurut rencana implementasi yang telah ditetapkan, program AIC 2026 akan melibatkan lebih dari 300 mahasiswa dari berbagai tingkat akademik, mulai dari tingkat satu hingga tingkat empat. Kegiatan akademik ini mencakup beberapa komponen utama, yaitu workshop intensif yang dipandu oleh praktisi berpengalaman, magang terstruktur di perusahaan mitra, proyek kolaboratif berbasis real-world project, dan seminar industri yang menghadirkan pembicara dari sektor perkembangan properti, perencanaan kota, hingga desain interior.
“Program Architecture Industry Connect ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga praktis dan aplikatif,” ujar Dr. Hendra Wijaya, Dekan Fakultas Arsitektur Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers yang digelar di aula utama kampus, Senin (31 Maret 2026). Beliau menambahkan bahwa program ini telah melalui proses perencanaan yang matang selama enam bulan terakhir, melibatkan diskusi intensif dengan stakeholder industri dan akademisi berpengalaman.
Lebih lanjut, Dr. Hendra menjelaskan bahwa setiap mahasiswa peserta program akan mendapatkan mentoring personal dari profesional di bidangnya masing-masing. “Kami percaya bahwa pembelajaran yang efektif adalah ketika mahasiswa tidak hanya mendengarkan teori di kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana teori tersebut diterapkan dalam proyek-proyek nyata. Dengan program ini, mereka akan memiliki pengalaman berharga yang akan membedakan mereka ketika memasuki dunia kerja,” tambahnya dengan antusias.
Dalam aspek kurikulum, program AIC 2026 telah mengintegrasikan beberapa mata kuliah dengan case study berbasis proyek aktual di Kendari dan sekitarnya. Contohnya, mahasiswa semester lima akan bekerja pada studi pengembangan kawasan komersial di Jalan Ahmad Yani, sementara mahasiswa semester tiga akan fokus pada proyek revitalisasi ruang publik di pusat kota Kendari. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah nyata ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mendalam tentang konteks lokal sekaligus mengasah keterampilan problem-solving yang kritis.
“Kami juga menyediakan fasilitas studio desain yang dilengkapi dengan perangkat teknologi terkini, termasuk software desain 3D terbaru dan peralatan presentasi profesional. Mahasiswa akan belajar menggunakan tools yang sama dengan yang digunakan oleh praktisi industri di tingkat nasional dan internasional,” kata Ir. Bambang Sutrisno, Ketua Program Studi Arsitektur, dalam sesi diskusi yang diselenggarakan usai konferensi pers.
Kemitraan industri yang menjadi tulang punggung program ini melibatkan beberapa nama besar di industri properti dan arsitektur. PT Karya Cemerlang Indonesia, salah satu pengembang properti terkemuka di kawasan Sulawesi Tenggara, telah menyepakati untuk menerima mahasiswa magang dan memberikan proyek kolaboratif. Pihak perusahaan juga berkomitmen untuk memberikan beasiswa kepada lima mahasiswa berprestasi setiap tahunnya.
Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tenggara juga turut mendukung program ini dengan membuka akses ke data-data perencanaan kota dan infrastruktur yang dapat digunakan mahasiswa sebagai bahan pembelajaran. “Kolaborasi antara akademik dan pemerintah ini sangat penting untuk memastikan bahwa mahasiswa memahami regulasi, standar, dan kebijakan yang berlaku dalam industri konstruksi dan perencanaan kota di Indonesia,” jelas Drs. Supardi, M.Eng., Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi, yang hadir dalam acara peluncuran program.
Respons dari mahasiswa terhadap inisiatif baru ini sangat positif. Siti Nurhaliza, mahasiswa semester lima Program Studi Arsitektur yang terpilih menjadi peserta awal program AIC 2026, mengungkapkan kegembiraan dan rasa percaya dirinya. “Saya sangat excited dengan kesempatan ini. Sebagai mahasiswa, kami sering merasa kesulitan menghubungkan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik di dunia nyata. Dengan adanya program ini, kami bisa belajar langsung dari praktisi dan terlibat dalam proyek-proyek aktual. Ini akan sangat membantu persiapan kami untuk karir di masa depan,” ujar Siti antusias.
Sementara itu, Rangga Aditya, mahasiswa semester tiga dan anggota organiser program dari kalangan mahasiswa, menambahkan bahwa terdapat semangat tinggi di kalangan junior untuk mengikuti program ini. “Banyak teman-teman kami yang ingin bergabung. Mereka melihat program ini sebagai investasi berharga untuk pengembangan skill dan networking. Kami juga berharap bahwa program ini akan membuka peluang kerja pasca-lulus,” katanya.
Dari perspektif institusi pendidikan, program ini juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan relevansi kurikulum dan akreditasi program studi. Universitas Muhammadiyah Kendari telah mengajukan program AIC 2026 sebagai best practice dalam pembelajaran berbasis industri kepada Lembaga Akreditasi Mandiri Arsitektur Indonesia (LAMARI), yang merupakan badan akreditasi resmi untuk program studi arsitektur di Indonesia.
“Program seperti ini menunjukkan bahwa universitas kami tidak hanya mengikuti standar akreditasi, tetapi berusaha melampaui ekspektasi dengan menciptakan pembelajaran yang inovatif dan relevan. Ini akan memperkuat posisi Fakultas Arsitektur Universitas Muhammadiyah Kendari di mata pemangku kepentingan pendidikan tinggi,” ujar Dr. Muhammad Asrul, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Kendari.
Selain pembelajaran mahasiswa, program ini juga dirancang untuk memberikan kontribusi nyata kepada pengembangan Kendari. Beberapa proyek kolaboratif yang akan dijalankan telah diidentifikasi sebagai proyek-proyek yang relevan dengan rencana pembangunan kota Kendari jangka menengah. “Kami percaya bahwa universitas harus menjadi agent of change dalam masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa kami akan langsung berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan Kendari, sekaligus belajar dari pengalaman tersebut,” jelas Dr. Hendra Wijaya.
Program AIC 2026 juga mencakup komponen pengembangan soft skills dan kewirausahaan. Dalam modul khusus, mahasiswa akan mendapat pelatihan tentang komunikasi profesional, negosiasi, manajemen proyek, dan keterampilan entrepreneurship. “Kami ingin bahwa lulusan Fakultas Arsitektur kami tidak hanya menjadi pekerja profesional yang baik, tetapi juga entrepreneur yang mampu menciptakan peluang usaha sendiri. Soft skills ini sama pentingnya dengan hard skills teknis,” kata Ir. Bambang Sutrisno.
Secara operasional, program ini akan dimulai pada semester ganjil tahun akademik 2026/2027, tepatnya bulan Agustus 2026. Sebelum itu, akan diadakan rangkaian persiapan termasuk pelatihan bagi dosen pembimbing, finalisasi modul pembelajaran, dan penandatanganan memorandum of understanding dengan mitra industri.
Investasi finansial untuk program ini juga telah dipersiapkan dengan matang. Universitas Muhammadiyah Kendari telah mengalokasikan dana khusus dari APBU (Anggaran Pendapatan dan Belanja Universitas) untuk pembaruan fasilitas studio desain dan pembiayaan kegiatan. Selain itu, pihak mitra industri juga memberikan kontribusi dalam bentuk in-kind support berupa bantuan perangkat, akses data, dan honorarium bagi pembicara-pembicara industri.
“Investasi ini bukan hanya untuk kepentingan mahasiswa kami, tetapi juga untuk masa depan industri kreatif di Sulawesi Tenggara. Dengan mempersiapkan talenta-talenta muda yang berkualitas, kami berharap dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kawasan ini,” tegaskan Dr. Muhammad Asrul.
Mengingat momentum peluncuran program ini yang strategis, beberapa universitas lain di kawasan juga mulai menunjukkan ketertarikan untuk mengadopsi model pembelajaran serupa. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif Universitas Muhammadiyah Kendari telah menjadi referensi positif bagi ekosistem pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara.
Penutupan konferensi pers ditandai dengan pemberian cinderamata kepada para mitra industri dan penandatanganan surat komitmen bersama antara Dekan Fakultas Arsitektur dengan wakil-wakil dari institusi mitra. Acara ini juga didokumentasikan dengan mengadakan sesi foto bersama dengan peserta yang dihadiri oleh sekitar 150 orang, terdiri dari dosen, mahasiswa, praktisi industri, dan media massa lokal.
Sejalan dengan tren pendidikan tinggi modern yang semakin fokus pada pembelajaran praktis dan kolaborasi industri, program Architecture Industry Connect 2026 Universitas Muhammadiyah Kendari menjadi milestone penting bagi institusi ini. Program ini tidak hanya mencerminkan komitmen universitas terhadap peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga responsivitas terhadap kebutuhan pasar kerja dan pembangunan berkelanjutan daerah. Dengan dukungan penuh dari stakeholder internal dan eksternal, program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi pengembangan lulusan yang kompeten, relevan, dan siap berkontribusi di industri kreatif Indonesia.
—
Penulis: Tim Publikasi Akademik
Kendari, 1 April 2026